Bab 3 / 19
Menyiapkan Hati dan Urusan Diri
Haji dimulai jauh sebelum bandara. Pekan pertama kursus berfokus pada perjalanan batin: niat yang ikhlas, tobat, menyelesaikan urusan, membersihkan akhlak, dan mengenali khurafat yang dapat merusak ibadah haji tanpa disadari.

Sepuluh adab sebelum berangkat
Kursus menyebutkan sepuluh adab sebelum menunaikan ibadah haji atau umrah:
- Niat yang ikhlas mencari rida Allah.
- Bertobat dengan sungguh-sungguh (taubat nasuha): berhenti dari dosa, menyesalinya, bertekad tidak mengulanginya, dan, jika terkait hak orang lain, mengembalikan hak mereka.
- Biaya yang halal.
- Membawa bekal dan biaya yang cukup untuk perjalanan, dan meninggalkan yang cukup bagi tanggungan.
- Mencari teman yang saling mengingatkan dan membantu.
- Memperbanyak doa dan zikir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di Makkah.
- Membuat wasiat.
- Meminta dan memberi maaf serta berlapang dada kepada semua orang.
- Menyucikan hati dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji) dan menjauhi sifat-sifat mazmumah (tercela).
- Istikamah dan bersungguh-sungguh mempelajari tata cara haji dan umrah.
Penyucian jiwa (tazkiyatun nafs)
Persiapan sejati seorang jemaah adalah hati yang siap menghadap Tuhannya. Kursus menganjurkan:
- Akidah yang jelas dan sahih serta pelaksanaan syariat yang tepat.
- Menguasai ilmu dan pemahaman Islam.
- Menunaikan salat fardu lima waktu tepat waktu, jemaah yang lalai salat di rumah akan sulit menjaganya di tengah keramaian Makkah.
- Mengamalkan ibadah sunah:
- qiyamul lail dan salat tobat;
- sedekah, harta, tenaga, atau lisan;
- memperbanyak doa dan zikir;
- memperbanyak membaca Al-Qur'an;
- memperbanyak amal kebajikan.
- Menghindari senda gurau yang berlebihan dan perkataan yang sia-sia (laghwu).
Sifat yang perlu dibangun dan yang perlu ditinggalkan
Haji menempatkan Anda di tengah kepadatan, panas, dan antrean bersama orang dari segala bangsa. Akhlak Anda akan diuji, sering kali beberapa kali sehari. Perbaikilah sejak sekarang.
| Sifat terpuji (mahmudah) | Sifat tercela (mazmumah) |
|---|---|
| Tobat nasuha; mengingat Allah | Melupakan Allah SWT dan Nabi SAW |
| Amanah | Terlalu cinta dunia |
| Sabar dan syukur | Mementingkan diri sendiri |
| Ikhlas dan rida | Pemarah |
| Rajin dan pemurah | Takabur/sombong dan riya/ujub |
| Hemat dan tenggang rasa | Boros |
| Penyayang dan pemaaf | Pembohong dan penipu |
| Tolong-menolong | Bertengkar dan mencela/memaki |
| Menepati janji dan waktu | Menggunjing (gibah) |
| Bertanggung jawab dan mandiri | Kikir |
| Istikamah | Hasad/dengki dan dendam |
| Selalu berkata benar | Khianat |
| Selalu menjaga kebersihan | Jorok |
| Lemah lembut | Perkataan dan perbuatan sia-sia; buruk sangka |
Adab di Tanah Haram
Setibanya di sana, ingatlah bahwa Anda tamu di Rumah Allah. Adab di Tanah Haram menurut kursus:
- Bergantung kepada Allah, bukan kepada manusia.
- Menyadari diri sebagai tamu Allah.
- Menunjukkan akhlak yang mulia.
- Menyadari perjalanan haji adalah ibadah, bukan liburan.
- Bersyukur dan rida dengan apa yang disediakan: kamar, makanan, bus.
- Menjauhi perkataan dan perbuatan keji.
- Menghindari sikap sombong dan takabur.
- Menghindari pertengkaran dan menyakiti dhuyuf ar-Rahman yang lain.
- Menghindari mengadu domba dan menyebarkan kabar yang tidak berdasar (kabar burung).
- Memperbanyak ibadah seperti tawaf, membaca Al-Qur'an, iktikaf, doa, tobat, dan istigfar.
- Semangat tolong-menolong dan kerja sama.
Menjauhi khurafat
Dari masa ke masa, amalan yang tidak berdasar dalam Islam melekat pada ibadah haji. Sebagian hanya membuang harta; sebagian menyentuh syirik, menyekutukan Allah, dan dapat merusak akidah. Kursus menyebutnya satu per satu agar jemaah dapat mengenalinya:
| Perbuatan | Cara dan tujuan yang keliru |
|---|---|
| Mengambil kain kiswah Ka'bah | Agar dagangan laris dan menganggapnya berkah |
| Membawa pulang kain putih yang dijadikan alas salat untuk dijadikan kain kafan | Agar meringankan siksa kubur |
| Mengambil kerak nasi di Mina, atau menjemur nasi di Arafah, untuk dibawa pulang | Agar usaha laris atau membawa keberuntungan |
| Memeluk tiang di Masjidil Haram | Agar panjang umur dan kaya |
| Bergantung pada kiswah Ka'bah untuk memohon hajat | Memohon hajat kepada Ka'bah, bukan kepada Allah |
| Meletakkan uang di bawah kiswah Ka'bah, lalu mengambilnya kembali setelah tawaf | Untuk dijadikan "uang induk" penglaris |
| Meninggalkan kertas bertuliskan kalimat syahadat kepada keluarga sebelum berangkat | Agar tidak meninggal dunia di Tanah Suci |
| Memakai jimat dan azimat | Agar terhindar dari bala dan selamat |
| Memanggil dukun untuk "memagari" rumah sebelum berangkat | Untuk menolak bala |
| Membawa air dari tujuh sumur saat tawaf | Untuk dijadikan obat |
| Mendapatkan sertifikat dari "syekh" di Makkah yang mengesahkan haji dan mengganti nama | Agar hajinya dianggap sah |
| Mengambil lidi atau bilah sapu di Masjidil Haram | Agar dagangan laris dan dianggap berkah |
| Mengusap-usap pintu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi | Untuk mendapat berkah |
| Membawa air Zamzam, kismis, kurma, atau uang saat tawaf | Untuk dijadikan obat, penawar, atau "uang induk" |
| Menanam tujuh batu di Arafah | Untuk menutup tujuh pintu neraka |
| Memotong tali di Arafah secara diam-diam | Agar anak kecil tidak menangis atau dagangan laris |
| Mengambil pasir Arafah untuk diinjak anak yang mulai belajar berjalan | Agar anak menjadi terkenal, sehat, atau pemberani |
Hal-hal yang membatalkan syahadat
Karena sebagian khurafat dapat menjerumuskan pada syirik, kursus juga menyebutkan hal-hal yang membatalkan syahadat:
- Menyekutukan Allah SWT dalam ibadah.
- Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dan Allah.
- Tidak mengafirkan orang-orang musyrik.
- Menganggap dan meyakini ajaran agama lain sama atau lebih sempurna dari Islam.
- Membenci sesuatu yang telah ditetapkan Rasulullah SAW sebagai syariat beliau.
- Mempermainkan Allah SWT, kitab-Nya, atau ajaran agama-Nya.
- Memercayai dan mengamalkan sihir atau bersahabat dengan jin.
- Membantu orang-orang musyrik memusuhi kaum Muslimin.
- Meyakini bahwa sebagian manusia boleh tidak mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW.
- Berpaling dari agama Allah SWT atau dari hal yang menjadi syarat mutlak sebagai Muslim.
Peliharalah tauhid Anda: ia adalah fondasi seluruh ibadah haji.
Menyelesaikan urusan dunia
- Utang: lunasi yang sudah jatuh tempo, atau minta persetujuan pemberi utang dan catat rinciannya dalam wasiat.
- Wasiat dan harta: beri tahu keluarga di mana dokumen Anda disimpan. Tunjuk seseorang untuk mengurus urusan Anda selama Anda pergi.
- Keluarga: atur pengasuhan anak-anak dan orang tua yang lanjut usia, dan tinggalkan nafkah yang cukup untuk seluruh masa kepergian.
- Pekerjaan: ajukan cuti jauh-jauh hari, Anda mungkin pergi enam atau tujuh minggu.
- Kesehatan: jalani pemeriksaan kesehatan lebih awal dan obati masalah apa pun sebelum berangkat (lihat Bab 17).
- Ilmu: hadiri setiap sesi kursus haji dan latihan praktik (amali). Bertanyalah sekarang, jauh lebih sulit bertanya di tengah dua juta manusia.
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Bacaan Subḥānal-ladhī sakh-khara lanā hādhā wa mā kunnā lahu muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.
Artinya Mahasuci Tuhan yang telah menundukkan (kendaraan) ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya; dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah kami akan kembali.
Surah az-Zukhruf 43:13–14