Bab 5 / 19

Rukun, Wajib, dan Tiga Cara Melaksanakan Haji

Enam rukun dan enam wajib haji, perbedaannya dengan umrah, dan tiga cara melaksanakan haji, Tamattu', Ifrad, dan Qiran, beserta niat masing-masing dan urutan perjalanan yang biasa dilakukan jemaah.

Setiap rukun haji harus dikerjakan. Tawaf Ifadhah, tawaf rukun haji, memenuhi mataf pada 10 Dzulhijjah dan hari-hari sesudahnya.
Setiap rukun haji harus dikerjakan. Tawaf Ifadhah, tawaf rukun haji, memenuhi mataf pada 10 Dzulhijjah dan hari-hari sesudahnya.Foto: Adli Wahid · CC BY-SA 4.0

Rukun haji

Rukun haji adalah amalan yang harus dilakukan jemaah ketika berhaji. Jika tidak dikerjakan, haji seseorang tidak sah/tidak sempurna, tergantung, dan ia masih terikat larangan ihram hingga rukun itu dilaksanakan. Tidak ada dam yang dapat menggantikan rukun.

Rukun haji ada enam menurut Mazhab Syafi'i:

  1. Niat ihram haji.
  2. Wukuf di Arafah: berada di Arafah antara tergelincirnya matahari 9 Dzulhijjah hingga sebelum terbit fajar 10 Dzulhijjah.
  3. Tawaf haji: disebut Tawaf Ifadhah atau Tawaf Rukun.
  4. Sa'i haji: tujuh kali antara Shafa dan Marwah.
  5. Mencukur atau memotong rambut.
  6. Tertib pada sebagian besar rukun: niat ihram didahulukan dari rukun-rukun lain, wukuf didahulukan dari Tawaf Ifadhah, dan tawaf didahulukan dari sa'i.

Wajib haji

Wajib haji adalah amalan yang wajib dilakukan ketika berhaji. Jika salah satunya tidak dikerjakan, haji tetap sah tetapi dikenai dam menurut syarat-syaratnya, dan berdosa jika meninggalkannya dengan sengaja.

Wajib haji ada enam:

  1. Niat ihram di miqat (atau sebelumnya).
  2. Meninggalkan larangan-larangan ihram.
  3. Bermalam (mabit) di Muzdalifah pada malam 10 Dzulhijjah.
  4. Melontar Jumrah Kubra ('Aqabah) pada 10 Dzulhijjah.
  5. Bermalam (mabit) di Mina pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah (malam 13 hanya jika Anda tinggal).
  6. Melontar ketiga jumrah pada hari-hari Tasyrik.

Tawaf Wada' juga wajib menurut Mazhab Syafi'i bagi siapa pun yang meninggalkan Makkah setelah haji, lihat Bab 18.

Perbedaan dengan umrah

HajiUmrah
Rukun1. Niat ihram haji · 2. Wukuf · 3. Tawaf · 4. Sa'i · 5. Mencukur/memotong rambut · 6. Tertib pada sebagian besar rukun1. Niat ihram umrah · 2. Tawaf · 3. Sa'i · 4. Mencukur/memotong rambut · 5. Tertib pada semua rukun
WajibNiat di miqat · meninggalkan larangan ihram · mabit di Muzdalifah · melontar pada 10 Dzulhijjah · mabit di Mina · melontar pada hari-hari TasyrikNiat di miqat · meninggalkan larangan ihram, tidak ada yang lain
WaktuHanya pada bulan-bulan haji, dengan wukuf pada 9 DzulhijjahKapan saja sepanjang tahun

Bulan-bulan haji

Niat ihram haji hanya dapat dilakukan pada bulan-bulan haji: mulai 1 Syawal hingga sesaat sebelum terbit fajar 10 Dzulhijjah. Inilah miqat zamani haji. Ihram haji tidak sah jika dilakukan di luar masa tersebut, bahkan menjadi ihram umrah.

Tiga cara melaksanakan haji

8 9 10 11 12 13 Hari-hari Dzulhijjah TarwiyahArafahHari Nahar Tasyrik 1Tasyrik 2Tasyrik 3 Ihram haji(Tamattu')Berangkat ke Arafah Wukuf mulaitergelincir matahariZuhur + AsarSetelah Magrib → jalan Muzdalifahlewat tengah malamLontar Aqabah (7)Cukur / potong rambutTawaf & sa'i Mabit di MinaLontar ketiganya(7 + 7 + 7) Lontar ketiganyaNafar Awal: tinggalkanMina sebelum Magrib Nafar Tsani:lontar ketiganyalalu berangkat Hari-hari haji mengikuti kalender hijriah: setiap hari baru dimulai saat Magrib. Jadwal rombongan Anda bisa berbeda, ikuti petugas dan pembimbing ibadah.
Apa pun cara yang dipilih, hari-hari dari tanggal 8 hingga 13 Dzulhijjah tetap sama.

1. Haji Tamattu', umrah dahulu, lalu haji

Melaksanakan umrah lebih dahulu pada bulan-bulan haji, bertahallul, kemudian berniat ihram haji pada tahun yang sama, biasanya pada 8 Dzulhijjah dari pemondokan di Makkah.

Inilah cara yang dilakukan sebagian besar jemaah haji Malaysia, karena memungkinkan mereka bebas dari ihram selama berminggu-minggu menunggu haji.

Dam dikenakan untuk Haji Tamattu' menurut syarat-syaratnya: jemaah bukan penduduk Tanah Haram; umrahnya dikerjakan pada bulan-bulan haji di tahun yang sama; dan ia tidak kembali ke miqat (atau sejauh miqat) untuk berniat haji. Damnya adalah menyembelih seekor domba/kambing (atau 1/7 sapi atau unta); jika tidak mampu, berpuasa sepuluh hari, tiga hari selama ihram haji dan tujuh hari setelah pulang ke tanah air (Bab 7).

Niat umrah (dahulu, di miqat)

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Nawaitul-ʿumrata wa aḥramtu bihā lillāhi taʿālā.

Artinya Aku berniat umrah dan aku berihram dengannya karena Allah Ta'ala.

Niat haji (kemudian, pada 8 Dzulhijjah)

نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Nawaitul-ḥajja wa aḥramtu bihī lillāhi taʿālā.

Artinya Aku berniat haji dan aku berihram dengannya karena Allah Ta'ala.

2. Haji Ifrad, haji dahulu, lalu umrah

Berniat haji saja di miqat, melaksanakan haji pada bulan-bulan haji, kemudian melaksanakan umrah setelah selesai amalan haji (misalnya dari Tan'im atau Ji'ranah). Menurut Mazhab Syafi'i, inilah cara yang afdal bila umrah dikerjakan pada tahun yang sama. Tidak ada dam. Tetap terhitung Haji Ifrad jika umrah dikerjakan lebih dulu di luar bulan-bulan haji dan haji dikerjakan pada bulan-bulan haji.

Jemaah Haji Ifrad tetap berihram dari miqat hingga tahallul haji, bisa berminggu-minggu. Mereka melakukan Tawaf Qudum (tawaf kedatangan) setiba di Makkah dan boleh melakukan sa'i haji sesudahnya.

3. Haji Qiran, haji dan umrah sekaligus

Cara 1: berniat haji dan umrah sekaligus di miqat pada bulan haji, lalu melaksanakan semua rukun dan wajib haji. Umrahnya dianggap selesai begitu haji selesai, "dua dalam satu". Dam dikenakan, sama seperti Tamattu'.

Niat Haji Qiran

نَوَيْتُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِمَا لِلّٰهِ تَعَالَى

Bacaan Nawaitul-ḥajja wal-ʿumrata wa aḥramtu bihimā lillāhi taʿālā.

Artinya Aku berniat haji dan umrah dan aku berihram dengan keduanya karena Allah Ta'ala.

Cara 2: berniat umrah saja, tetapi sebelum tawaf ia berniat haji, lalu melaksanakan semua rukun dan wajib haji. Ini menjadi Haji Qiran.

Kursus memberi contoh kasus untuk Cara 2: seorang wanita mengalami haid setelah berniat umrah (baik umrah wajib maupun sunah), dan haidnya belum selesai hingga tanggal keberangkatan ke Arafah. Ia tidak boleh bertawaf, sehingga tidak dapat menyelesaikan umrahnya. Menurut Mazhab Syafi'i, jika haid datang sebelum ia memulai tawaf, ia boleh menambahkan niat haji sebelum berangkat ke Arafah; hajinya menjadi Haji Qiran dan dam Qiran dikenakan. Jika ia telah memulai tawaf, ia tidak boleh lagi berniat haji (haji tidak boleh dimasukkan ke dalam umrah), sehingga ia tidak mendapatkan haji tahun itu. Demikian pula jemaah yang tidak sempat menyelesaikan umrah karena sakit, terhalang, atau koma. (Mazhab Maliki membolehkan niat haji dimasukkan ke dalam umrah sebelum berangkat ke Arafah, selama ia belum mengakhiri tawafnya dengan salat sunah tawaf.) Jika ia sudah membayar dam Haji Tamattu', ia hendaknya melapor kepada petugas TH yang bertugas bahwa niatnya telah berubah menjadi Haji Qiran.

Ringkasan tiga cara

Tamattu'IfradQiran
Niat di miqatUmrahHajiHaji dan umrah
Bertahallul sebelum haji?Ya, setelah umrahTidakTidak
Niat baru pada 8 Dzulhijjah?Ya, niat haji, dari MakkahTidak (sudah berihram)Tidak (sudah berihram)
Tawaf QudumTidak berlakuSunahSunah
Sa'i hajiSetelah Tawaf IfadhahSetelah Tawaf Qudum atau setelah Tawaf IfadhahSetelah Tawaf Qudum atau setelah Tawaf Ifadhah
DamYaTidakYa

Urutan amalan setelah Arafah

Setelah wukuf, tidak semua jemaah mengikuti urutan yang sama. Kursus menunjukkan beberapa urutan yang lazim, semuanya sah, tergantung pengaturan rombongan:

Urutan9 DzulhijjahMalam 10 Dzulhijjah10 Dzulhijjah dan seterusnya
Cara biasa jemaah muassasahWukufMuzdalifah lewat tengah malamLontar Kubra → cukur/potong rambut (Tahallul Awal) → mabit di Mina dan melontar pada 11–13 → Tawaf Ifadhah dan sa'i di Makkah (Tahallul Tsani)
Tawaf pada tanggal 10WukufMuzdalifah lewat tengah malamLontar Kubra → cukur/potong rambut (Tahallul Awal) → Tawaf Ifadhah dan sa'i (Tahallul Tsani) → kembali ke Mina untuk mabit dan melontar
Tawaf langsung setelah MuzdalifahWukufMuzdalifah lewat tengah malam → Tawaf Ifadhah dan sa'i di MakkahCukur/potong rambut (Tahallul Awal) → lontar Kubra (Tahallul Tsani) → mabit di Mina dan melontar

Aturan yang tetap: wukuf sebelum Tawaf Ifadhah; tawaf sebelum sa'i; dan melontar, mencukur/memotong rambut, serta Tawaf Ifadhah hanya boleh dimulai setelah tengah malam 10 Dzulhijjah.

Sunah-sunah haji

Selain rukun dan wajib, ada banyak amalan sunah, di antaranya: mandi sunah ihram, mengenakan kain ihram berwarna putih, salat sunah ihram, talbiah dari niat hingga mulai melontar pada 10 Dzulhijjah, Tawaf Qudum bagi jemaah Haji Ifrad dan Qiran, mengumpulkan kerikil di Muzdalifah, dan bermalam di Mina pada malam 9 Dzulhijjah (cara sunah). Setiap bab berikutnya menjelaskan sunah-sunah setiap ibadah.